Polisi Tingkatkan Patroli di Perairan Sulselbar

Kompas.com - 25/03/2010, 02:10 WIB

MAKASSAR, KOMPAS.com - Direktorat Kepolisian Perairan (Ditpolair) Polda Sulselbar meningkatkan patroli ke pulau-pulau Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) terkait dugaan jaringan teroris Umar Patek akan memasuki perairan daerah itu.
    
"Kita sudah meningkatkan patroli ke pulau-pulau yang ada di Sulsel karena diduga 31 orang anak buah Umar Patek masih bebas berkeliaran," kata Direktur Polair Polda Sulselbar Kombes Pol Agus Sutikno, di Makassar, Rabu (24/3/2010) malam.
    
Ia mengatakan, dirinya sudah mengerahkan empat kapal polisi (KP) milik Ditpolair Polda Sulselbar serta satu unit kapal laut milik tim SAR untuk menyisir pulau-pulau yang dianggap rawan untuk disinggahi oleh jaringan teroris tersebut.
    
Dituturkannya, 31 anak buah Umar Patek yang sudah dijadikan sebagai daftar pencarian orang (DPO) oleh Mabes Polri langsung ditindak lanjut dengan menggelar patroli rutin.
    
Apalagi, kata Agus, perairan Sulsel sangat luas dan beberapa pulau-pulaunya terhubung dengan pulau-pulau Provinsi Lainnya, bahkan ada beberapa negara tetangga lebih dekat dijangkau dari kepulauan Sulsel. "Wilayah perairan Sulsel ini sangat luas dan beberapa pulau-pulau itu sangat dekat dengan pulau-pulau provinsi lainnya. Apalagi orang yang menggunakan kapal nelayan saja bisa ke Bali, Kalimantan, NTB dan lainnya melalui Kepulauan Pangkep," katanya.
    
Diungkapkannya, pulau-pulau yang ada di Pangkep banyak juga yang tidak berpenghuni karena itu, dirinya sudah meningkatkan antisipasi dan penyisiran di wilayah perairan Pangkep.
    
Hingga saat ini, 17 pulau sudah dilakukan penyisiran dan dua pulau lainnya yang tidak berpenghuni juga sudah diantisipasinya dengan menitip nelayan di pulau tersebut.
    
Wilayah penyisiran yang sudah dilakukan Ditpolair antara lain, perairan Jeneponto, Takalar, Galesong Makassar dan Pangkep. "Untuk sementara masih sekitar empat perairan yang kami sisir karena keempat perairan itu merupakan yang terbesar dan mempunyai banyak pulau yang menghubungkan beberapa pulau di provinsi lainnya," tuturnya.
    
Sementara itu, Komandan Lantamal VI Laksamana Pertama (Laksma) Bambang Wahyudin yang dikonfirmasi terpisah mengatakan, pihaknya juga akan mengerahkan sejumlah kapal patroli dan kapal perang (KRI) milik Angkatan Laut (AL) untuk membantu menyisir perairan Sulselbar serta pulau-pulau. "Kita punya dua KRI yakni KRI Suluh Pari dan KRI Birang serta beberapa kapal patroli lainnya untuk membantu kepolisian dalam melakukan penyisiran," katanya.
    
Selain itu, pemeriksaan rutin terhadap dokumen kapal nelayan juga sedang ditingkatkan, jika terbukti ada yang mencurigakan maka pihaknya akan membawanya ke Lantamal VI Makassar untuk dilakukan identifikasi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau